Cara mengukur tanah di lapangan
Pasang patok di tiap sudut, gambar bentuk bidangnya apa adanya, lalu ukur tiap sisi dan satu diagonalnya dengan meteran dan catat tiap ukuran dalam meter pada gambar itu sebelum dihitung.
Urutannya: pasang patok di tiap sudut, gambar bidangnya apa adanya, lalu ukur sisi demi sisi dalam meter beserta satu diagonal untuk mengunci bentuknya sambil mencatat tiap ukuran pada gambar itu. Hitungan baru dikerjakan setelah catatan lengkap.
Urutan langkahnya
Lima langkah berikut dikerjakan berurutan. Mengubah urutannya, misalnya menghitung sebelum bidangnya digambar, membuat ukuran yang kurang baru ketahuan setelah meninggalkan lokasi.
- Siapkan meteran, pensil, dan kertas, lalu catat seluruh ukuran dalam meter.
- Gambar bentuk bidang tanah apa adanya, termasuk sisi yang tidak lurus.
- Pecah gambar itu menjadi bentuk sederhana: persegi panjang, segitiga, atau trapesium.
- Ukur sisi yang dibutuhkan tiap bagian; untuk bidang tidak beraturan ukur juga satu diagonalnya.
- Hitung luas tiap bagian dengan rumusnya, jumlahkan hasilnya, lalu ubah ke satuan yang dibutuhkan.
Kenapa diagonalnya harus ikut diukur?
Karena panjang sisi saja belum menentukan bentuk bidang. Segi empat dengan keempat sisi yang sama panjang masih dapat dipipihkan, dan luasnya berubah mengikuti bentuknya. Jarak antara dua patok yang berseberangan mengunci bentuk itu, sehingga luasnya punya satu jawaban.
Perhitungannya diuraikan di cara menghitung luas tanah tidak beraturan.
Seberapa besar akibat salah ukur satu sisi?
Kesalahan pada satu sisi langsung menjadi kesalahan luas, dengan perbandingan yang sama. Pada bidang 20 m x 30 m yang berluas 600 meter persegi, sisi 20 meter yang tercatat satu meter lebih panjang membuat luasnya terbaca 630 meter persegi, meleset 30 meter persegi. Tabel berikut memuat selisih ukur lain beserta akibatnya.
| Selisih ukur pada sisi 20 m | Luas terhitung (m²) | Selisih luas (m²) | Selisih (persen) |
|---|---|---|---|
| 0,1 m | 603 | 3 | 0,5 |
| 0,25 m | 607,5 | 7,5 | 1,25 |
| 0,5 m | 615 | 15 | 2,5 |
| 1 m | 630 | 30 | 5 |
| 2 m | 660 | 60 | 10 |
Alat apa saja yang diperlukan?
Meteran gulung yang panjangnya melebihi sisi terpanjang, patok untuk menandai sudut, tali untuk menjaga arah ukur tetap lurus, serta pensil dan kertas untuk mencatat. Meteran pendek yang disambung berkali-kali menumpuk kesalahan pada tiap sambungan, jadi sedapat mungkin satu sisi diukur sekali jalan.
Bagaimana mengukur tanah yang menurun?
Ukur jarak mendatarnya, bukan jarak menyusuri permukaan. Caranya dengan menahan meteran tetap mendatar dan menurunkan ujungnya tegak lurus ke titik berikutnya, atau dengan memecah sisi yang menurun menjadi beberapa penggal pendek yang masing-masing diukur mendatar.
Apakah hasil ukur sendiri bisa dipakai untuk transaksi?
Hasil ukur sendiri berguna untuk memeriksa apakah angka yang disebut penjual masuk akal, dan untuk merencanakan pemakaian bidangnya. Untuk transaksi yang mengikat, yang berlaku adalah luas menurut dokumen dan hasil ukur pihak yang berwenang.
Cara mencatat ukuran supaya tidak tertukar
Beri nama tiap sudut dengan huruf, lalu tulis ukuran pada sisi yang bersangkutan di gambar, bukan pada daftar terpisah. Tuliskan satuannya pada tiap angka, dan bedakan panjang sisi dari panjang diagonal dengan garis putus-putus. Catatan yang menempel pada gambar membuat ukuran yang belum terambil langsung terlihat sebelum meninggalkan lokasi.
Memeriksa sudut siku dengan aturan 3-4-5
Sudut siku dapat diperiksa tanpa alat khusus. Ukur 3 meter dari sudut menyusuri sisi pertama, 4 meter menyusuri sisi kedua, lalu ukur jarak antara kedua titik itu. Bila jaraknya tepat 5 meter, sudutnya siku, karena 3 dikali 3 ditambah 4 dikali 4 sama dengan 5 dikali 5. Pada bidang yang besar, kelipatannya lebih teliti: 6, 8, dan 10 meter, atau 9, 12, dan 15 meter.